2 Ramadhan 1447 H Memoriku terusik

 

Picture by AI Canva

Malam ini 2 Ramadhan 1447 H aku baru bisa mengikuti Tarawih karena semalam masih dalam keadaan haid. Sedih tapi ini qodarulloh aku juga sempat khawatir pas hari raya kemenangan datang bulan lagi mengingat hari pertama puasa saja aku tidak dapat huhuhu...

Entah mengapa pada shalat witir rakaat pertama memoriku terusik sedikit tidak khusuk dalam sholat sunnah tadi, tetiba aku teringat almarhum ayahku, bagaimana dia menghabiskan sisa waktunya hidup di dunia ini.

Tidak diperhatikan oleh istrinya secara penuh cenderung terabaikan, makannya tidak ada yang memperhatikan untuk menu sehat, ia menerima kiriman anak ke-4 dari makassar setiap bulan.

Aku yang kala itu masih jatuh bangun untuk merajut mimpi sebagai voice actor belum memiliki penghasilan tetap untuk mencukupi kebutuhan kami berdua di rumah ini.

Tapi aku bahagia karena aku ikhlas meninggalkan pekerjaanku sebagai Penyiar Radio Pro 3 RRI Jakarta di tahun 2021 karena memutuskan untuk merawat dan menjaga ayahku yang sakit diabetes pada kakinya, dan harus bolak balik rumah sakit untuk kontrol sebelum hingga setelah operasi.

Hingga akhir hayatnya aku bisa melihat Ayahku, sungguh bahagia tidak ada penyesalan di dalam diriku aku sangat bersyukur. Banyak pelajaran hidup yang aku lihat dari Ayahku. Semasa hidupnya aku merasa dia "bandel" keras dengan pemikirannya, bahkan aku sempat dibilang ikut pengajian yang pemahamannya salah menurut pribadinya.

Tapi aku tidak marah aku tersenyum, karena diajarkan guruku untuk tidak mendebat orangtua yang minim ilmu agama, cukup tanggapi "ya" atau "diam".

Aku merasakan bagaimana seorang kepala rumah tangga yang tidak berarti di mata istri dan anak-anaknya ketika tidak memiliki harta, meski ia selalu mengorbankan tenaga dan waktunya hal itu ternyata tertutup oleh besaran angka.

Beruntungnya aku yang sudah belajar ilmu ALLAH, bisa membuka mata hati untuk menerima dan berusaha bersabar dengan sikapnya yang terkadang tidak sejalan.

Saat Tarawih tadi kembali teringat juga sikap anak laki-lakinya yang sempat mengabaikannya hingga kelaparan aku menangis kala itu dan merekam perbincangan mereka di telepon hanya sebagai kenangan.

Lalu kembali teringat saat selang NGT mau dimasukkan melalui hidung dan ternyata perawat laki-laki salah saluran yang menyebabkan Ayahku memuntahkan daging bercampur darah dimulutnya.

berputar lagi memori di kepalaku saat aku mengantarnya untuk periksa mata sampai operasi katarak, masa-masa itu aku benar-benar tidak punya pekerjaan tetap, kami makan bersama di warung padang setelah pulang dari rumah sakit.

Aku juga ingat saat Ayahku dipindahkan ke rumah sakit tipe B dari tipe C, ia minta di elus dadanya karena terasa panas, sambil kuusap kubacakan surat pendek tri kul, Al ikhlas, Al Falaq, Annas.

Semua tinggal kenangan, memori bersama orang yang pernah mengantarkanku naik motor interview di DAAI TV Jakarta waktu itu masih berkantor di Mangga Dua.

Sosok Ayah yang tidak sempat memberi kemewahan tapi meninggalkan banyak cerita kesetiaan dan kesabaran yang tak pernah terungkapkan, ia memang bukan pria yang berpendidikan tinggi, tapi kerja keras untuk keluarganya melampaui tingginya titel pada ilmuan.

Aku sesak mengingat memori itu, jadi kutuangkan pada tulisan ini agar bisa meringankan pikiranku di malam ramadhan yang penuh rahmat ini. 

Tetiba juga aku teringat sosok pria dengan karakter yang hampir-hampir mirip dengan Ayahku "bandelnya" dan aku gak paham kenapa dia selalu lewat dipikiranku, semoga ini hanya ujian saja dan akan selesai pada waktunya jika ALLAH sudah takdirkan segera usai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENIKAH

Motivasi dari Ali bin Abi Thalib (Pemimpin di zamannya)